//
You're Reading...
Agenda Kegiatan, Agenda Sekolah, Umum

PERINGATAN HARI GURU DAN HUT PGRI KE-66


Segenap warga SMP Negeri 35 Jakarta melaksanakan UPACARA HARI GURU DAN HARI ULANG TAHUN PGRI KE-66. Kita patut bersyukur, karena pendidikan di Indonesia selama ini dapat terus berlangsung dan mengalami perkembangan yang cukup berarti karena adanya kekuatan perjuangan para guru dari zaman ke zaman. Pemahaman tentang guru dan perjuangan guru di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari mulai adanya peradaban di negeri kita ini, di samping adanya sejarah perjalanan dan perjuangan bangsa yang sangat panjang.

Patut kita syukuri bersama, sejarah perjalanan pendidikan dan pengajaran di Indonesia berdasarkan catatan sejarah sudah selalu melekat dengan icon pada zamannya. Saat peradaban bangsa ini masih bercorak tradisional dari kelompok etnis, suku dan bangsa dengan bentuk koloni atau kelompok kepentingan dan kebergantungan hidup bersama sudah dikenal dengan istilah bopo, pemuka, resi, pujangga dan istilah lain yang pararel pengertiannya dengan guru. Masa berikutnya pada zaman kerajaan, istilah guru juga populer dengan sebutan mahaguru, resi, yang kemudian melalui pengaruh Islam istilah berikutnya mulai menyebar secara merakyat di seluruh pelosok dengan sebutan imam, amil, modin, atau lebai (di Sumatera), Ustad, ustadzah kyai, pamong dan guru (di Jawa), syekh di wilayah-wilayah tertentu.

Hal tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan di Indonesia memang sudah ada sejak pada masa sebelum mapannya sistem kerajaan dengan latar belakang agama berdasarkan keyakinan, kemudian berkembang pada masa kerajaan Hindu-Budha, pada masa Islam dan pada masa penjajahan atau sebelum kemerdekaan dan pada masa pasca kemerdekaan hingga saat ini.

Tentu patut kita syukuri karena pendidikan dari masa ke masa, khususnya sebelum Islam masuk dan pada masa kerasnya tekanan penjajah, proses pendidikan hanya dapat dilakukan oleh kelompok tertentu, yaitu kelompok kerabat kerajaan, keluarga bangsawan dan perwakilan pemimpin dari wilayah yang lebih kecil, namun biasanya juga masih berbasis kelompok bangsawan. Melalui perjuangan RA Kartini, Dewi Sartika, dan tokoh pendidikan lainnya, mulai dirasakan bahwa proses pendidikan mulai menyentuh rakyat biasa. Anak-anak petani mulai mengenal pendidikan, anak-anak keluarga sederhana dan tak terpandang karena bukan dari keluarga pemimpin maupun bangsawan mulai diajak untuk mengenal proses pendidikan.

Memang berdasarkan perjalanan sejarah, masa awal pendidikan nonformal dan semiformal  di Indonesia, khususnya pada era masuknya agama Islam dan pengaruh kaum penjajah, warna pendidikan dan sepak terjang guru/pamong/pemimpin agama, masih menunjukkan pendidikan di Indonesia berlandaskan keagamaan, baik itu pendidikan bercorak Hindu-Budha, Islam maupun Katolik. Ketika tekanan penjajah sangat kuat dan rakyat Indonesia sulit memperoleh kesempatan belajar yang layak, pemuka agama dan pemuka masyarakat hampir di seluruh negeri ini, mendidik masyarakat melalui pendidikan surau.

Perkembangan berikutnya mulai muncul adanya pendidikan berkarakteristik Katolik  sekolah dasar sekolah lanjutan dan sekolah dasar negeri, sekolah raja, sekolah pertukangan dan lain-lain dengan isitilah dan nama bebahasa Belanda, karena dibawa oleh kaum penjajah, karena letak lembaga ini rata-rata berada di kota-kota besar. Semakin hari semakin mengakar, di kota besar dan sekolah formal cenderung pendidikan berlandaskan kepentingan penjajah, di pedesaan, pelosok dan daerah terpencil maupun untuk kelompok rakyat biasa di kota ada kecenderungan bersekolah atau mengikuti pendidikan berlandaskan pada unsur perjuangan bangsa untuk menanamkan sendi-sendi perjuangan bangsa dalam rangka melawan nasib dan mengusir penjajah.

Pendidikan dalam rangka perjuangan kemerdekaan, di samping telah disebutkan melalui basis surau dan pesantren, kala itu sudah kita kenal Muhammadiyah, Majelis Luhur Perguruan Taman Siswa, Pendidikan INS Kayutanam, Pendidikan Ma’arif, dan perguruan Islam lainnya serta adanya program pemberantasan buta huruf yang mulai dikumandangkan pada tahun 1935 melalui keputusan Kongres Perempuan Indonesia ke-2.

 Berdasarkan kronologis kisah di atas, ternyata fungsi, jabatan dan profesi guru sejak awal adanya peradaban di Indonesia, masa kerajaan, masa penjajahan, masa kemerdekaan dan masa pascakemerdekaan, membuktikan bahwa: Guru memegang peranan sentral di masyarakat serta bagi  bangsa dan negara. Sekali lagi, guru memegang peranan sentral. Guru menjadi inspirator perubahan, menjadi pendobrak belenggu penjajahan, memberantas kebodohan, dan membangkitkan negeri ini menjadi negeri yang siap membangun dan siap maju menghadapi tantangan global.

Kita songsong ke depan dengan perbaikan kinerja, semangat dan motivasi yang tinggi mengolah anak-anak yang berada di hadapan kita agar kelak di kemudian hari mereka menjadi orang yang berguna dan menjadi pemimpin pembaharu di Indonesia baik skala wilayah, skala daerah. Skala nasional, skala regional maupun mendunia.

About smpn35jakarta

Jl. Kayu Manis Gg. KH. Raiman No.71B Condet Balekambang Kramat Jati Jakarta Timur, Telp. 021 - 8004945 Fax. 021 80876578 Email : smpn35_jaktim@yahoo.co.id

Diskusi

One thought on “PERINGATAN HARI GURU DAN HUT PGRI KE-66

  1. saya bangga dengan apa yg guru2 saya berikan terimkasih atas segala sesuatunya

    Posted by suciyuliwardhani | 1 Desember 2011, 1:18 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Social Networking

Twitter Terbaru

SMP Negeri 35 Statatistik

  • 96,620 Pengunjung
%d blogger menyukai ini: